CEO Talk : Belajar Dari Amerika (Part 1)

You are here : Home  News & Events

CEO Talk : Belajar Dari Amerika (Part 1)

Mungkin banyak dari kita yang tidak suka dengan pemerintah Amerika, yang memposisikan dirinya sebagai polisi dunia. Tapi kalau mau jujur, apa jadinya dunia ini kalau tanpa Amerika? Paling tidak, apa jadinya dunia ini kalau tanpa rakyat Amerika yang sangat entrepreneurial itu?

Kalau William E. Boeing tidak mendirikan pabrik pesawat terbang di tahun 1916, akankah perekonomian dunia bisa sedinamis sekarang? Kalau John D. Rockefeller tidak mendirikan Standard Oil, akan seperti apa industri minyak dunia? Kalau Thomas A. Edison tidak melakukan riset yang tak kenal lelah, akankah dunia akan semodern sekarang? Dan ternyata penemuan-penemuan baru yang mengubah dunia itu terus berlanjut sampai sekarang dengan ditemukannya internet beserta aplikasi-aplikasi di atasnya seperti facebook, google dan lain-lain. Amerika seperti tidak pernah kehabisan talenta-talenta unggul yang bisa mengubah dunia. Baik talenta “pribumi Amerika” maupun talenta imigran seperti Elon Musk. Dan yang mesti dicatat, mereka semua itu adalah orang-orang swasta. Mereka membangun bisnis yang meraksasa sebagai private company, dan bukan sebagai state-owned company.

Kita layak belajar dari rakyat Amerika yang sangat entrepreneurial ini. Mereka terus berkarya seperti tidak membutuhkan (dukungan) pemerintahnya. Mereka terus bergerak menciptakan peradaban baru bagi negaranya, bahkan bagi peradaban dunia. Amerika besar karena rakyatnya yang sangat entrepreneurial. Dalam membangun negaranya, pendekatan bottom-up jauh lebih dominan dibandingkan pendekatan top-down. Partisipasi dan kontribusi rakyat demikian besarnya, dan itulah yang membuat Amerika bisa menjadi kekuatan utama dunia.

Apa yang membuat rakyat Amerika bisa begitu entrepreneurial? Hal ini barangkali bisa dirunut dari latar belakang nenek moyang mereka yang petualang sejati, yang berasal dari berbagai bangsa. Para petualang itu berkumpul dan mendeklarasikan dirinya menjadi bangsa yang baru, bangsa dengan identitas dan karakter yang baru. Sebagai petualang sejati, mereka tidak puas dengan kemapanan, dan ingin selalu menciptakan hal-hal yang baru. Hal ini didukung oleh semangat pluralisme yang begitu kuat, sehingga talenta-talenta dari berbagai bangsa bisa mengkonsolidasikan kekuatannya. Pluralisme itulah yang membuat prestasi seseorang jauh lebih dihargai daripada latar belakangnya, dan itu yang membuat mereka begitu produktif.

Bagaimana dengan kita di Indonesia? Apakah kita memiliki cukup banyak petualang-petualang tangguh seperti rakyat Amerika? Apakah kita memiliki cukup banyak petualang yang berpikir apa yang bisa mereka sumbangkan bagi negara dan bangsanya? Atau justru lebih banyak pecundang yang selalu menuntut uluran tangan pemerintah, sambil terus-menerus menyalahkan pemerintah yang dia tunggu uluran tangannya?

Mengapa kita tidak belajar dari rakyat Amerika? Mau Obama atau Trump presidennya, mereka tetap berkarya bagi bangsa dan negaranya. Bahkan bagi peradaban manusia di seluruh dunia.

Salam,
Hari Tjahjono


Abyor Indonesia

+62 21 29004532 info@abyor.com


ContactnUs
Contact Us