CEO Talk: Belajar Dari Amerika (Part 2)

You are here : Home  News & Events

CEO Talk: Belajar Dari Amerika (Part 2)

Sekitar 50% perusahaan yang masuk kategori Fortune 500 didirikan oleh imigran Amerika atau anak-anaknya. Terus terang saya tidak tahu apa sebenarnya definisi imigran untuk kasus Amerika ini? Apakah semua orang Amerika kecuali bangsa asli Indian itu disebut imigran? Mestinya tidak. Karena sensus terbaru menyatakan bahwa jumlah imigran di Amerika itu sekitar 25% saja. Kalau demikian, artinya prosentase perusahaan Amerika yang masuk dalam Fortune 500 itu jauh lebih banyak dari 50% tersebut.

Fakta ini menunjukkan 2 hal. Pertama, entrepreneurship orang-orang Amerika itu memang luar biasa. Bayangkan, Fortune 500 adalah kelompok perusahaan terbesar di dunia, dan itu dikuasai oleh orang-orang Amerika. Kedua, kebinekaan Amerika juga luar biasa, sehingga para imigran bisa eksis dan berprestasi sangat luar biasa bagi negara barunya, Amerika. Yang lebih mengagumkan lagi, para imigran itu lebur sebagai bagian dari masyarakat Amerika, dan mereka bangga dengan ke-Amerika-an mereka. Dalam bahasa yang lain, Bhineka Tunggal Ika betul-betul mewujud dengan sangat indah di Amerika sana.

Sebagai bangsa yang mengusung semangat Bhineka Tunggal Ika, mestinya kita bisa belajar dari apa yang telah dicapai oleh bangsa Amerika ini. Mereka berhasil mengkapitalisasi semangat “berbeda tapi satu” demi kemajuan bangsanya, sehingga mereka bisa menguasai dunia. Amerika melihat perbedaan itu sebagai “potensi penguat”, dan bukan sebagai “ancaman”. Dengan semangat “berbeda tapi satu” itu mereka bisa mengumpulkan talenta-talenta terbaik dari seluruh dunia untuk membangun bangsanya. Mengapa Amerika bisa begitu percaya diri? Bagaimana dengan Indonesia?

Dari sisi values, harusnya bangsa Indonesia ini tidak masalah dengan semangat “berbeda tapi satu” ini. Bhineka Tunggal Ika adalah buktinya. Tapi perkembangan sosial dan politik belakangan ini terus terang cukup mengancam semangat kebinekaan ini. Jargon asing dan aseng begitu kuat disebarkan entah oleh siapa. Alih-alih menjadi “potensi penguat”, perbedaan dan kebinekaan itu malah menjadi ancaman bagi kehidupan berbangsa dan berbenegara kita. Antar elemen bangsa mulai curiga. Sehingga kebinekaan yang sebetulnya bisa menjadi modal sosial yang amat berharga untuk membangun bangsa ini mulai terancam.

Mengapa ini semua bisa terjadi? Apakah karena alasan politik? Apakah karena melemahnya nilai-nilai keagamaan? Bukankah agama mayoritas bangsa ini justru menekankan bahwa manusia memang dijadikan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, dan mereka semua sama dihadapan Tuhan? Dan bukankah agama mayoritas bangsa ini pun melarang keras ummatnya untuk selalu curiga kepada pihak lain?

Jangan-jangan kita harus lebih mendalami ajaran agama kita, justru setelah kita belajar dari semangat “berbeda tapi satu”nya Amerika.

Salam,
Hari Tjahjono


Abyor Indonesia

+62 21 29004532 info@abyor.com


ContactnUs
Contact Us