News

CEO Talk: Pesan dari ITB

Kemarin, 4 Juli 2018, bertempat di Aula Barat ITB, saya mendapatkan penghargaan Ganesa Wirya Jasa Adiutama dari Rektor ITB. Sampai Hari-H, terus terang saya masih bertanya-tanya kontribusi yang mana yang membuat ITB berkenan memberikan penghargaan ini? Apakah saya pantas menerimanya?

 

Yang jelas, nominasi penghargaan ini diajukan oleh Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD), tempat saya menimba imu selama kuliah di ITB dulu. Apa alasan nominasi ini tidak pernah disampaikan kepada saya, karena sambil bergurau Prof. Hari Muhammad, Dekan FTMD, meminta saya menunggu saja sampai Hari-H.

 

Kemarin, alasan pemberian penghargaan itu pun ditayangkan di depan layar ketika Prof. Kadarsyah Suryadi, Rektor ITB, menyerahkan plakat penghargaan tersebut langsung kepada saya di depan Sidang Terbuka ITB dalam rangka Peringatan 98 Tahun Pendidikan Tinggi Teknik Indonesia, di Aula Barat ITB. Ada 4 poin yang menjadi alasan:

 

1. CEO dan co-founder PT Abyor International
2. Ketua ITB Ultra Marathon 170K Jakarta – Bandung 2017
3. Sekretaris Yayasan Solidarity Forever
4. Ketua Ikatan Alumni Penerbangan ITB (2011-2014)
Memang tidak dijelaskan detil dari setiap poin tersebut. Tetapi spontan saya menangkap bahwa penghargaan ini adalah pesan dari ITB kepada saya sebagai alumni. Pesan pertama adalah pentingnya entrepreneurship. Visi ITB untuk menjadi Entrepreneurial University peelu didukung penuh oleh seluruh alumni ITB. Pesan ini tertangkap jelas karena posisi saya sebagai CEO dan co-founder PT Abyor International diletakkan di posisi paling atas. Rupanya ITB mengapresiasi kerja keras kami selama ini dalam merintis pendirian perusahaan dari nol sampai memberikan lapangan pekerjaan bagi ratusan sarjana. Entrepreneurship for job creation rupanya mendapat perhatian sangat penting bagi ITB.


Pesan berikutnya adalah Peduli Almamater. Poin 2, 3 dan 4 adalah kegiatan sosial yang selama ini saya tekuni sebagai ucapan terima kasih untuk almamater yang telah mendidik dan membesarkan saya. Tanpa ITB, mungkin saya hanya akan _angon wedus_ (menggembala kambing) di sebuah kampung di daerah Caruban, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Berkat ITB lah saya bisa seperti sekarang. Dan saya ingin mengungkapkan rasa terima kasih saya yang tak terhingga dengan aktif di kegiatan-kegiatan tersebut. Tentu saja itu semua masih belum cukup untuk membayar jasa yang telah diberikan ITB untuk pengembangan diri saya selama ini, tetapi paling tidak saya sudah berusaha berbuat yang terbaik sesuai kemampuan saya.


Terima kasih ITB untuk penghargaan yang telah diberikan.  Insya Allah pesannya akan saya catat, dan semoga saya bisa menjalankan amanah untuk teus memajukan dunia entrepreneurship di tanah air. Dan semoga saya bisa lebih peduli lagi kepada almamater yang telah mendidik saya selama ini.




Salam,
Hari