News

Knowledge Funnel

Knowledge Funnel adalah proses yg diikuti oleh pebisnis unggul sehingga bisnisnya bisa sukses diterima pasar spt McDonalds. Proses itu dibagi dalam 3 tahapan besar: Mystery – Heuristic – Algorithm.

McDonalds dijadikan contoh yg baik menggambarkan proses ini karena menggabungkan pendekatan instinctive dan analytics secara sempurna. Pendekatan instinctive itu dilakukan secara sempurna oleh McDonalds brothers dalam tahapan “mystery dan heuristic” sehingga mereka berdua menemukan rumah makan cepat saji yg makanannya selalu hangat dan disajikan dg cepat.

Dan ini dilanjutkan oleh Ray Kroc yg membeli license McDonalds dalam tahapan “algorithm” dengan membuat SOP yang sangat detil dan mudah diikuti sehingga McDonalds bisa di-franchise-kan dengan mudah dan mendunia. Tanpa algoritma Ray Koc, tidak mungkin McDonalds bisa mendunia seperti sekarang.

In short, McDonalds brothers menemukan ide rumah makan cepat saja yg sesuai dg selera pasar yg mereka targetkan, dan Ray Kroc mengubah McDonalds sebagai warung kecil menjadi McDonalds Corporation yg mendunia.

Gabungan proses berfikir yg intinctive dan analytics inilah inti dari konsep “design thinking”. Dan itu dapat dilakukan dg baik kalau kita mengikuti proses dalam “Knowledge Funnel” dg benar pula.

Chapter 3: Design Thinking

Bab 3 buku ini bercerita tentang definisi “design thinking” secara lebih utuh. Design thinking artinya berpikir layaknya seorang designer berpikir. Tim Brown, CEO IDEO, perusahaan design ternama dari Palo Alto, Amerika, mendefinisikan design thinking secara lebih komprehensif:

“Design thinking is a discipline that uses the designer’s sensibility and methods to match people’s needs with what is technologically feasible and what a viable business strategy can convert into customer value and market opportunity. A person or organization instilled with that discipline is constantly seeking a fruitful balance between reliability and validity, between art and science, between intuition and analytics, and between exploration and exploitation. The design-thinking organization applies the designer’s most crucial tool to the problems of business. That tool is abductive reasoning.”

Untuk menggambarkan bagaimana konsep design thinking diterapkan dalam dunia bisnis, penulis buku ini menceritakan kisah sukses “blackberry” yg pernah merajai dunia “push mail” dan real-time messenger (chatting). Setelah 15 tahun berbisnis sejak didirikan tahun 1984, RIM (Research In Motion) pemilik merek “blackberry” akhirnya menemukan produk yg menguasai pasar dunia karena menerapkan konsep “design thinking”. Pendiri RIM, Mike Lazaridis, adalah true believer dari konsep design thinking. Lazaridis mampu membawa RIM melewati knowledge funnel dg sukses mulai dari tahapan “mysery”, “heuristic”, sampai dg “algoritm”. Dengan konsep design thinking, RIM menemukan ide “push mail” yg sangat sukses pada zamannya, karena tidak saja mampu membaca kebutuhan pasar yg belum dilihat oleh para pesaingnya, tetapi juga karena solusi teknologi yg dia tawarkan adalah yg paling unggul pada zamannya. Dalam waktu hanya 10 tahun, RIM melalui balckberry telah memiliki 25 juta pelanggan, dan hanya dalam 3 tahun berikutnya jumlah pelanggan sudah naik berlipat menjadi 79 juta, dan menjadi penguasa dunia pada saat itu. (Belakangan, beberapa tahun setelah terbitnya buku ini, ternyata blackberry akhirnya kalah juga bersaing dg iphone dan android-based smartphone… ????????)

Kesuksesan Lazaridis tidak terlepas dari cara berpikirnya yg sangat teguh mengikuti “abductive reasoning”, ialah sebuah logika berpikir yg diperkenalkan oleh filosof terbesar Amerika, Charles Sanders Peirce. Peirce yg dikenal sebagai “Bapak Pragmatisme” berpendapat bahwa ide baru akan muncul kalau kita melakukan “logical leap of the mind”. Ide baru akan muncul kalau kita mengamati data yg tidak mengikuti model yg ada. Sehingga langkah paling awal yg sebaiknya kita lakukan bukan sekedar “observation” tetapi juga “wondering”. Itulah yg menurut Pierce dikenal sebagai “abductive reasoning”.

Pertanyaannya, mengapa “abductive reasoning” ini tidak populer dibanding “inductive dan deductive reasoning”? Menurut buku ini penyebabnya karena memang “abductive reasoning” ini tidak diajarkan dalam sistem pendidikan Amerika bahkan sistem pendidikan dimana saja. Sistem pendidikan selama ini hanya fokus mengajarkan “inductive dan deductive reasoning” saja.

Penyebab lain, juga menurut buku ini, bisa jadi disebabkan oleh personality dari Charles Sanders Peirce sendiri. Walaupun sebagai pemikir paling jempolan di Amerika, kehidupan pribadi Peirce sangatlah berantakan. Gaya hidupnya ugal2an. Nah loh…

Salam,

Hari